Minggu, 05 November 2017

perlawanan-perlawanan terhadap VOC

Perlawanan VOC

1.Aceh vs Portugis dan VOC
Setelah Malaka jatuh ketangan Portugis, banyak pedagang Islam yang menyingkir dari Malaka ke Aceh. Maka dari itu Aceh menjadi pusat perdagangan yang ramai. Sebaliknya perkembangan Aceh yang pesat ini dianggap ancaman oleh Portugis,oleh karena itu Portugis berniat untuk menghancurkan Aceh. Pada tahun 1523 Portugis melancarkan serangan ke Aceh dibawah pimpinan Henrigues,dan menyusul pada tahumn 1524 dipimpin oleh De Sauza.Portugis terus melakukan serangan ke Aceh,tetapi Aceh tidak tinggal diam dengan melakukan beberapa upaya :
·         Melengkapi kapal-kapal dagang Aceh dengan persenjataan , meriam dan prajurit
·         Mendatangkan bantuan persenjataan, sejumlah tentara dan beberapa ahli dari Turki pada tahun 1567
·         Mendatangkan bantuan persenjataan dari Kalikut dan Jepara

Tetapi beberapa kali perlawanan oleh Aceh tidak dapat menghentikan penyerangan Portugis. Pada tahun 1629 pasukan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda melancarkan serangan ke Malaka,tetapi tentara Portugis lebih tangguh dan kuat. Aceh belum dapat menang dari Portugis. Walau demikian Portugis tetap tidak berhasil menguasai Aceh dan begitu juga Aceh tidak dapat menguasai Portugis. Pada tahun 1641 Portugis dapat diusir oleh VOC.

2. Maluku angkat senjata
Portugis berhasil memasuki Kepulauan Maluku pada 1521. Mereka memusatkan aktivitanya di Ternate. Tak lama Spanyol berhasil memasuki Kepulauan Maluku dengan memusatkan kedudukannya di Tidore. Pada tahun 1529 terjadi perang antara Tidore melawan Portugis. Penyebab perang ini karena kapal-kapal Portugis menembaki jung-jung dari Banda yang akan membeli cengkih ke Tidore. Karena mendapat dukungan dari Ternate dan Bacan akhirnya Portugis mendapat kemenangan.
Dengan kemenanga ini membuat Portugis menjadi Sombong dan bersikap kasar tehadap rakyat Maluku. Untuk menyelesaikan persaingan Portugis dan Spanyol diadakan perjanjian SARAGOSA (perjanjian damai antara Portugis dan Spanyol). Pada tahun 1565 muncul perlawanan yang dipimpin oleh Sultan Khaerun. Karena Potugis kewalahan menghadapi perlawanan oleh Sultan Khaerun,Portugis menawarkan perundingan dengan Sultan Khaerun. Tetapi perundingan ini hanya tipu muslihat Portugis, Sultan Khaerun ditangkap dan dibunuh. Perlawanan terus dilanjutkan oleh Sultan Baabullah(putra Sultan Khaerun).
Sampai pada akhirnya perlawanan yang dipimpin oleh Sultan Nuku berhasil memebuat Portugis dan VOC kewalahan. Sultan Nuku mampu lepas dari dominasi Belanda dan membangun pemerintahan yang berdaulat sampai akhir hayatnya(1805).

3. Sultan Agung vs J.P Coen
Sultan Agung merupakan raja dari Kerajaan Mataram. Cita-citanya ingin mengusir VOC di Jawa yang memaksa untuk memonopoli perdagangan. Kebijakan monopoli dapat membawa kesengsaraan bagi Jawa. Oleh karena itu Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia. Serangan ini didasari oleh :
·         Tindakan monopoli yang dilakukan VOC
·         VOC sering menghalangi kapal-kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka
·         VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram
·         Keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius bagi masa depan Pulau Jawa
Pada tanggal 22 Agustus 1628 pasukan Mataram dibawah pimpinan Tumenggung Baureksa menyerang Batavia. Tetapi kekuatan VOC dengan senjatanya lebih unggul,sehingga dapat memukul mundur semua lini kekuatan pasukan Mataram.
Sultan Agung tak lantas berhenti,ia langsung menyiapkan serangan kedua. Dengan menambah jumlah kapal dan senjata tahun 1629 pasukan Mataram berangkat menuju Batavia. Tetapi serangan kedua ini masih belum bisa mengoyak pertahanan VOC yang dipersenjatai lengkap. Walaupun Sultan Agung belum berhasil mengalahkan VOC tetapi semangat dan cita-cita untuk melaean dominasi asing terus tertanam pada jiwa Sultan Agung dan para pengikutnya.

4. Perlawanan Banten
Banten memiliki posisi yang strategis dan dijadikan sebagai bandar perdagangan internasional. VOC yang membangun bandar di Batavia. Terjadi persaingan antara Banten dann Batavia memperebutkan posisi sebagai bandar perdagangan internasional. Oleh karena itu sering terjadi serangan-serangan terhadap VOC.
Sultan Ageng Tirtayasa menjalin hubungan dengan pedagang-pedagang dari Inggris, Perancis, Denmark, dan Portugis. Sehingga membuat perdagangan Banten terus berkembang. Perkembangan Banten sangat tidak disenangi oleh VOC. Oleh karena itu VOC sering melakukan blokade terhadap kapal jung-jung dari Maluku. Banten juga melakukan perusakan terhadap beberapa kebun tanaman tebu milik VOC. VOC terus memperkuat pertahanan dengan membangun Benteng Noordwijk.
Pada tahun 1671 Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota Abdulnazar Abdulkahar (Sultan Haji). Kesempatan ini tidak disiakan,VOC menghasut Sultan Haji untuk bersekongkol. Persekongkolan ini dapat terjadi dengan syarat :
·         Banten harus menyerahkan Cirebon ke VOC
·         Monopoli lada di Banten dipegang oleh VOC dan harus menyingkirkan pedagang Persia, India,dan Cina
·         Banten harus membayar 600.000 ringgit apabila ingkar janji
·         Pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan pedalaman Priangan segera ditarik kembali.
Sultan Ageng membangun istana baru di Tirtayasa. Sultan Ageng berusaha merebut kembali Kesultanan Banten  dari Sultan Haji. Pada 1682 pasukan Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengepung istana Surosowan. Sultan Haji meminta bantuan VOC dibawah pimpinan Francois Tack. Pasukan Sultan Ageng Tirtayasa terpukul mundur dan Sultan  Ageng beserta putranya Pangeran Arya Purbaya berhasil ditangkap dan ditawan oleh VOC sampai akhir hayatnya pada 1692.

5. Perlawanan Goa
Kerajaan Goa merupakan salah satu kerajaan yang sangat terkenal di Nusantara. Pusat pemerintahannya di Somba Opu yang sekaligus menjadi pelabuhannya. Di sini terbuka untuk siapa saja, mereka anti terhadap tindakan monopoli perdagangan. Pelabuhan smba opu sangat letaknya sangat strategis, dan membuat VOC ingin mengendalikan serta menerapkan monopoli perdagangan. VOC memblokade pelabuhan tetapi gagal lalu mereka menghancurkan kapal-kapal pribumi. Raja Goa, Sultan Hasanuddin ingin menghentikan tindakan VOC yang anarkis dan provokatif itu. Kemudian, Sultan Hasanuddin mempersiapkan kekuatan menghadapi VOC dan membangun benteng pertahanan. VOC dibantu sekutu menyerang dari segala arah ,serangan tersebut membuat Sultan Hasanuddin terdesak kemudian dipaksa menandatangani perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667 yang berisi:
1.      Goa harus mengakui hak monopoli VOC
2.      Semua orang barat, kecuali belanda harus meninggalkan wilayah Goa
3.      Goa harus membayar biaya perang
Sultan Hasanuddin tidak ingin melaksanakan perjanjian itu, karena bertentangan dengan hati nurani dan semboyan masyarakat Goa. Kemudian dia mencoba melawan pada tahun 1668 namun VOC dapat meredamnya, dengan sangat terpaksa Sultan Hasanuddin harus melaksanakan isi perjanjian Bongaya. Bahkan benteng pertahanan rakyat Goa jatuh ketangan VOC dan di beri nama Benteng Fort Rotterdam.

6. Rakyat Riau Angkat Senjata
VOC terus melakukan monopoli perdagangan dan ingin menguasai berbagai daerah di Nusantara. Di samping menguasai Malaka, VOC juga mengincar Kepulauan Riau. Dengan politik memecah belah VOC dapat mendesak kerajaan kecil seperti Siak, Indragiri, Rokan, dan Kampar.
Kerajaan Siak Sri Indragiri dipimpin oleh raja Sultan Abdul Jalil melancarkan perlawan(1723-1744). Dia berhasil merebut Johor dan membuat benteng pertahanan, kemudian mengirimkan pasukan di bawah komando Raja Lela Muda untuk  menyerang Malaka. Sultan Abdul Jalil Syah wafat dan digantikan putranya yang bernama Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah(1746-1760) dia juga ingin selalu memerangi VOC di Malaka yang komando perangnya Raja Indra Pahlawan. Strategi VOC untuk menghadapi Siak adalah dengan memutus jalur perdagangan , membangun benteng pertahanan di jalur yang menghubungkan sungai Indragiri, Kampar, sampai muara sungai Siak dan menahan kapal dagang yang menuju ke siak. Siak kemudian mempersiapkan serangan yang lebih besar untuk menyerang VOC. Pasukan dipercayakan kembali kepada Raja Indra dan panglima besar Tengku Muhammad Ali. Terjadilah pertempuran sengit di Pulau Guntung(1752-1753). Benteng VOC yang dilapisi dengan meriam membuat pasukan Siak sulit menembus dan VOC terus mendatangkan bantuan membuat panglima perang Siak menyuruh mundur pasukannya kembali ke Siak. Sultan Siak bersama para panglima dan penasihat mengatur siasat baru, dengan berpura-pura damai dengan memberi hadiah ke belanda. VOC setuju, kemudian perundingan diadakan di Loji pulau Guntung. Saat perundingan sudah dimulai, Sultan kemudian memberi kode untuk menyerbu dan membunuh orang-orang belanda. Loji segera di bakar dan rombongan Sultan pulang membawa kemenangan.

7. Orang-orang Cina Berontak
Sejak abad ke-5 orang-orang Cina sudah mengadakan hubungan dagang ke Jawa dan jumlahnya semakin banyak. Untuk membatasi kedatangan orang-orang Cina ke Batavia, VOC mengeluarkan ketentuan bahwa setiap orang Cina yang tinggal di Batavia harus memiliki surat izin bermukim (disebut permissiebriefjaes) atau surat pas. Untuk mendapatkannya harus membayar 2 ringgit (Rds.2,) perorang tetapi banyak terjadi penyelewengan dengan biaya yang lebih mahal membuat banyak orang Cina tidak sanggupvuntuk memiliki surat izin.
VOC menagkap orang Cina yang tidak memiliki surat izin tetapi banyak yang kabur ke luar kota dan membentuk perkumpulan yang mengacaukan keberadaan VOC di Batavia. Pada tahun 1740 terjadi kebakaran di Batavia, VOC menafsirkan ini sebagai gerakan orang-orang Cina. VOC kemudian melakukan sweeping ke setiap rumah dan membunuh orang-orag Cina.
Sementara yang selamat melakukan perlawanan di berbagai daerah. Tokoh yang terkenal adalah Oey Panko/Khe Panjang. Perlawanan orang-orang Cina mendapat bantuan dari para bupati dan Raja Pakubuwanan II, pada tahun 1741 benteng VOC diserang di Kartasura dan membuat banyak korban berjatuhan. VOC kemudian meningkatkan pasukan dan persenjataan dan perlawanan orang-orang Cina satu persatu dapat dipadamkan.

8. Perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said
Pada saat pemerintahan Pakubuwana II terjadi persahabataan dengan VOC. VOC melakukan investasi dan menekan pemerintahan dan membuat wilayah kerajaan semakin berkurang. Hal itu membuat kecewa para bangsawan dan menimbulkan perlawanan misalnya Raden Mas Said. Ia diikuti R. Sutawijaya dan Suradiwangsa (Kiai Kudanawarsa) pergi keluar untuk menyusun kekuatan. Kemudian Mas Said menuju Nglaroh untuk memulai perlawanan. Mas Said mendapat dukungan dari masyarakat. Hal ini mengancam eksistensi Pakubuwana II dan dia mengumumkan barang siapa yang dapat memadamkan perlawanan Mas Said akan memdapat sebidang tanah di Sukowati(Sragen) tetapi Mas Said tidak menghiraukan dan tetap melakukan perlawanan kepada kerajaan dan VOC. Mangkubumi berhasil memadamkan perlawanan tersebut dan meminta imbalan tetapi Pakubuwana ingkar janji dan membuat Mangkubimi kecewa. Mangkubumi kemudian bertemu dengan Mas Said untuk bersatu melawan VOC. Raden Mas Said bergerak ke timur dan Mangkubumi ke barat. Mangkubumi membawai 13.000 prajurit, termasuk 2.500 kaveleri. Pakubuwana II jatuh sakit dan harus menandatangi perjanjian yang berisi
1.      Susuhunan Pakubuwana II menyerahkan Kerajaan Mataram baik secara da facto/de jure ke VOC
2.      Hanya keturunan Pakubuwana II yang berhak naik tahta, dan akan dinobatkan oleh VOC menjadi raja Mataram dengan tanah Mataram sebagai pinjaman dari VOC
3.      Putera mahkota akan segera dinobatkan.
Kemudian Pakubuwana II wafat. Perjanjian itu membuat kekecewaan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said semakin besar dan meningkatkan perlawanan terhadap VOC. Perlawanan Pangeran Mangkubumi berakhir setelah tercapai perjanjian Giyanti dan perlawanan Mas Said juga berakhir setelah tercapai perjanjian Salatiga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar